PENGKAJIAN INTEGRASI PASAR PADA KOMODITI BERAS (Oryza Sativa L.) DI KABUPATEN MALANG

PENGKAJIAN INTEGRASI PASAR

PADA KOMODITI BERAS (Oryza Sativa L.) DI KABUPATEN MALANG

(Studi Kasus di Pasar Gadang,Pasar Lawang dan Pasar Tumpang di Kabupaten Malang)

Dwita Indrarosa

ABSTRAK

Integrasi pasar merupakan salah satu indikator yang dapat digunakan untuk menyatakan tingkat efisiensi suatu sistem pemasaran. Pengukuran integrasi pasar dapat digunakan sebagai data dasar untuk memahami mekanisme pasar dan sebagai bahan informasi bagi pemerintah dalam rangka merumuskan kebijakan, berupa penyediaan infrastruktur dan layanan informasi untuk menghindari eksploitasi pasar.

Dari hasil analisis Integrasi pasar beras secara horisontal antara pasar Gadang dengan pasar Lawang menunjukkan bahwa perubahan harga ditingkat pasar Lawang akan diikuti oleh perubahan harga ditingkat pasar Gadang dalam jangka panjang. Adanya Integrasi pasar beras secara vertikal antara pasar Kecamatan Tumpang dengan pasar Lawang dan antara pasar Kecamatan Tumpang dengan pasar Gadang, baik dalam jangka panjang maupun jangka pendek, sehingga dominasi penentuan harga di tingkat petani ditentukan oleh pedagang pengumpul sebagai akibat dari struktur pasar oligopsoni.

Kata Kunci : Beras, Pasar, Integrasi, Malang

  1. Pendahuluan

Pengukuran integrasi pasar dapat digunakan sebagai data dasar untuk memahami mekanisme pasar (Ravallion, 1986) dan sebagai bahan informasi bagi pemerintah dalam rangka merumuskan kebijakan, berupa penyediaan infrastruktur dan jasa layanan informasi untuk menghindari eksploitasi pasar (Lohano dan Mari, 2006).

Informasi pasar merupakan salah satu aspek penting bagi pembuat kebijakan dan pelaku pasar dalam rangka tercapainya integrasi pasar yang kuat. Dalam hal ini, jika informasi pasar dikuasai secara baik oleh pelaku pasar, baik produsen, konsumen maupun padagang, maka pasar pada wilayah produksi terintegrasi cukup kuat dengan pasar di wilayah konsumsi (Fadhla, 2002). Informasi pasar yang dibutuhkan oleh para petani berupa perkiraan harga tren pasar dan harga saat ini serta informasi situasi pasar. Informasi tentang tren-tren pasar dan perubahan harga berguna untuk perencanaan produksi (Anindita, 2004).

  1. Tujuan Pengkajian

Tujuan dari kajian ini adalah untuk mengetahui tingkat integrasi pasar pada harga beras di Kabupaten Malang.

  • Perumusan Masalah

Secara umum pemasaran dianggap sebagai proses aliran barang yang terjadi dalam pasar. Dimana barang mengalir dari produsen sampai kepada konsumen akhir yang disertai penambahan guna bentuk melalui proses pengolahan, guna tempat melalui proses pengangkutan dan guna waktu melalui proses penyimpanan.

Pemasaran komoditi pertanian merupakan proses konsentrasi yaitu pengumpulan produk-produk pertanian dari petani ke tengkulak, pedagang pengumpul dan pedagang besar serta diakhiri proses distribusi yaitu penjualan barang dari pedagang ke agen, pengecer dan konsumen (Sudiyono, 2002). Perbandingan harga yang terjadi ditingkat produsen, grosir dan pengecer menyebabkan terjadinya fluktuasi harga komoditi tersebut. Oleh karena itu perlu adanya kajian tentang analisis integrasi pasar sebagai salah satu Informasi pasar yang diharapkan kiranya memberikan masukan kepada petani sebagai stake holder.

  1. Metode Analisis Data

Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini diklasifikasikan atas dua jenis, yaitu data primer dan data sekunder.

Data primer adalah data yang diperoleh melalui wawancara langsung dari  120 responden petani beras yang berpedoman pada daftar pertanyaan yang telah dipersiapkan sebelumnya. Secara garis besar data yang akan dijaring meliputi data struktur pasar, saluran dan lembaga-lembaga pemasaran, margin pemasaran, berbagai informasi tentang sarana dan prasarana pemasaran beras. Data sekunder adalah data-data yang diperoleh dari instasi terkait, seperti dari Kantor Camat Kecamatan Tumpang, BKP3 Kab Malang, Biro Pusat Statistik Malang, serta berbagai pustaka yang bertalian dengan penelitian ini. Data kajian ini diambil pada deret waktu (time series) bulan/tahun selama kurun waktu 5 tahun mulai dari tahun 2005–2010.

  1. Pembahasan dan Hasil

Analisis Integrasi

Perkembangan Harga Beras

Perkembangan harga beras bulanan di pasar Lawang, pasar Gadang dan pasar Kecamatan Tumpang selama kurun waktu 5 tahun (2005-2010) bergerak secara tidak stabil atau berfluktuasi. Perkembangan harga beras dari ketiga pasar tersebut dapat diuraikan secara jelas di bawah ini.

  1. Perkembangan Harga Beras di Pasar Gadang

Harga beras bulanan di pasar Gadang selama kurun waktu 5 tahun (2005-2010) selalu berfluktuasi. Harga beras terendah terjadi pada bulan Maret sampai dengan bulan Juni tahun 2007, yakni sebesar Rp 2500, sedangkan harga beras tertinggi terjadi selama tahun 2010, yakni sebesar Rp 4000.

Pada bulan Januari sampai dengan bulan Mei tahun 2006 harga beras bergerak naik mencapai Rp 3500/kg, sedangkan pada bulan Juni-Juli harga beras bergerak turun ke Rp 2750/kg, kemudian pada bulan Agustus harga kembali bergerak naik ke Rp 3500/kg. Pada bulan Januari sampai dengan bulan Pebruari tahun 2007 harga beras berada pada tingkatan tertinggi, yakni sebesar Rp 3000/kg sedangkan pada bulan Maret-Juni harga beras berada pada tingkatan terendah, yakni sebesar Rp 2500/kg, kemudian pada bulan Juli-Desember harga kembali naik ke Rp 2750/kg. Pada tahun 2008 harga beras berada pada tingkatan yang stabil, yakni sebesar Rp 2750/kg. Pada bulan Januari – September tahun 2006 harga beras berada pada tingkatan terendah, yakni sebesar Rp 3250/kg sedangkan pada bulan Oktober-Desember harga beras berada pada tingkatan tertinggi, yakni sebesar Rp 3500/kg. Pada tahun 2010 harga beras mengalami peningkatan menjadi Rp 4000/kg dan sepanjang tahun tersebut harga beras berada pada tingkatan yang stabil.

Gambar  1. Harga Beras Bulanan dari Tahun 2006-2010 di

 Pasar Inpres Gadang

Bila diamati perkembangan harga beras bulanan selama tahun 2006-2010 diketahui bahwa harga akan kecenderungan menurun pada bulan Juni. Hal ini disebabkan terjadinya panen raya. Sedangkan kenaikan harga akan terjadi pada akhir sampai awal tahun. Hal ini disebabkan terdapatnya hari raya besar (seperti Natal dan Tahun Baru) dan puncak musim paceklik pangan.

Selain secara grafik, penentuan pola pergerakan data harga beras dapat dilakukan melalui 2 macam pengujian secara formal, yaitu korelogram dan unit root test. Pada dasarnya korelogram merupakan teknik identifikasi stasioneritas data time series melalui Fungsi Autokorelasi (Autocorrelation Function = ACF). Pengujian korelogram pada tingkat level menunjukkan data beras tidak stasioner. Hal ini ditunjukkan dengan berbagai indikator berikut:

  • Grafik autokorelasi pada lag pertama berada diluar garis Bartlett dan menurun secara eksponensial atau perlahan, semakin kecil dan bila diteruskan akan keluar lagi dari garis Bartlett, meskipun grafik batang berpindah ke sebelah kiri. Garis Bartlett adalah garis yang ditandai dengan garis putus-putus di kanan-kiri garis tengah, baik pada grafik autokorelasi mapun autokorelasi parsial.
  • Nilai koefisien autokorelasi (lihat kolom AC) cukup besar, yaitu 0,906 (dari kemungkinan -1 sampai dengan 1) dan menurun secara perlahan-lahan. Dalam hal ini dapat dikatakan bahwa nilai koefisien autokorelasi mendekati satu.
  • Nilai probabilitas dari lag ke-1 sampai dengan lag ke-28 yang sangat mendekati nol, yang berarti lebih kecil dari α = 5%.

Pengujian korelogram dilanjutkan pada tingkat first difference untuk melihat kestasioneran data pada tingkat tersebut. Hasil pengujian menunjukan data sudah stasioner pada orde 1 atau I(1). Hal ini ditunjukkan dengan berbagai indikator berikut:

  • Grafik autokorelasi dan autokorelasi parsial menunjukkan bahwa semua grafik batang sudah berada di dalam garis Bartlett (garis putus-putus).
  • Nilai koefisien autokorelasi (lihat kolom AC) mendekati nol.
  • Umumnya nilai probabilitas lebih besar dari α = 5%.

Pengujian stasioneritas data harga beras secara formal yang kedua adalah dengan menggunakan unit root test, yaitu Dickey-Fuller (DF) test dan Augmented Dickey-Fuller (ADF) Test secara ringkas dapat dilihat pada tabel 1, dibawah ini.

Tabel 1. Dickey-Fuller (DF) test dan Augmented Dickey-Fuller (ADF) Test di tingkat Pasar Inpres Gadang

No Uji Level First Difference
Test Critical Value tstatictic Ket. Test Critical Value tstatictic Ket.
1 DF:
  • Hasil pengujian DF pada tabel 1 menunjukkan bahwa pada tingkat level, baik dengan intercept maupun dengan intercept and trend  data harga beras di pasar  Gadang tidak stasioner. Hal ini ditunjukkan dengan uji DF lebih besar dari nilai kritisnya. Untuk itu pengujian stasioneritas data dilanjutkan pada tingkat first difference. Hasil pengujiannya menunjukkan uji DF lebih kecil dari nilai kritisnya, maka dapat disimpulkan bahwa H0 ditolak yang berarti data sudah stasioner pada orde 1 atau I (1).

Hasil pengujian ADF pada tabel 1 menunjukkan bahwa pada tingkat level, baik dengan intercept, intercept and trend  maupun none data harga beras  di pasar Inpres Gadang tidak stasioner. Hal ini ditunjukkan dengan uji ADF lebih besar dari nilai kritisnya.  Untuk itu pengujian stasioneritas data dilanjutkan pada tingkat first difference. Hasil pengujiannya menunjukkan uji ADF lebih kecil dari nilai kritisnya, maka dapat disimpulkan bahwa H0 ditolak yang berarti data sudah stasioner pada orde 1 atau I(1).

  1. Perkembangan Harga Beras di Pasar Inpres Lawang

Harga beras bulanan di pasar  Lawang selama kurun waktu lima tahun (2006-2010) selalu berfluktuasi. Harga beras terendah terjadi pada bulan Januari sampai dengan bulan Pebruari tahun 2006, yakni sebesar Rp 2800, sedangkan harga beras tertinggi terjadi pada bulan Desember tahun 2010, yakni sebesar Rp 4500. Pada bulan Maret 2006 sampai dengan bulan Desember 2008 harga beras di pasar  Lawang cenderung tidak berubah/konstan, yakni sebesar Rp 3000/kg.

Pada bulan Januari sampai dengan bulan Pebruari tahun 2006 harga beras bergerak pada tingkatan rendah yakni sebesar Rp 2800/kg, sedangkan pada bulan Maret-Desember harga beras bergerak pada tingkatan yang lebih tinggi yakni sebesar Rp 3000/kg. Pada tahun 2007 dan 2008 harga beras cenderung berada pada tingkatan yang stabil, yakni sebesar Rp 3000/kg. Pada tahun 2009 harga beras mengalami peningkatan dan sepanjang tahun tersebut harga beras berada pada tingkatan yang stabil, yakni sebesar Rp 3250/kg. Sedangkan pada tahun 2010 harga beras sangat berfluktuasi dengan trend yang terus meningkat. Harga terendah berada pada bulan Januari selanjutnya harga bergerak naik dan mencapai harga yang tertinggi pada bulan Desember, yakni sebesar Rp 4500/kg. Sedangkan selama bulan Maret-Oktober harga tidak berubah, yakni sebesar Rp 4000/kg.

Gambar  2. Harga Beras Bulanan dari Tahun 2006-2010 di

             Pasar Lawang

Gambar 2 di atas terlihat bahwa harga selalu berfluktuasi, sehingga dapat dikatakan data harga tersebut cenderung tidak stasioner. Selain secara grafik, penentuan pola pergerakan data harga beras dapat dilakukan melalui 2 macam pengujian secara formal, yaitu korelogram dan unit root test. Pengujian stasioneritas data harga beras secara formal yang pertama yaitu korelogram merupakan teknik identifikasi stasioneritas data time series melalui Fungsi Autokorelasi (Autocorrelation Function = ACF). Pengujian korelogram pada tingkat level menunjukan data beras tidak stasioner. Hal ini ditunjukkan dengan berbagai indikator berikut:

  • Grafik autokorelasi pada lag pertama berada diluar garis Bartlett dan menurun secara eksponensial atau perlahan, semakin kecil dan bila diteruskan akan keluar lagi dari garis Bartlett, meskipun grafik batang berpindah ke sebelah kiri. Garis Bartlett adalah garis yang ditandai dengan garis putus-putus di kanan-kiri garis tengah, baik pada grafik autokorelasi mapun autokorelasi parsial.
  • Nilai koefisien autokorelasi (lihat kolom AC) cukup besar, yaitu 0,881 (dari kemungkinan -1 sampai dengan 1) dan menurun secara perlahan-lahan. Dalam hal ini dapat dikatakan bahwa nilai koefisien autokorelasi mendekati satu.
  • Nilai probabilitas dari lag ke-1 sampai dengan lag ke-28 yang sangat mendekati nol, yang berarti lebih kecil dari α = 5%.

Pengujian korelogram dilanjutkan pada tingkat first difference untuk melihat kestasioneran data pada tingkat tersebut. Hasil pengujian menunjukan data sudah stasioner pada orde 1 atau I(1). Hal ini ditunjukkan dengan berbagai indikator berikut:

  • Grafik autokorelasi dan autokorelasi parsial menunjukkan bahwa semua grafik batang sudah berada di dalam garis Bartlett (garis putus-putus).
  • Nilai koefisien autokorelasi (lihat kolom AC) mendekati nol.
  • Nilai probabilitas lebih besar dari α = 5%.

Pengujian stasioneritas data harga beras secara formal yang kedua adalah dengan menggunakan unit rooot test, yaitu Dickey-Fuller (DF) test dan Augmented Dickey-Fuller (ADF) Test.

Hasil pengujian DF menunjukkan bahwa pada tingkat level, dengan intercept and trend  data harga beras di Pasar  Lawang tidak stasioner. Hal ini ditunjukkan dengan uji DF lebih besar dari nilai kritisnya.  Untuk itu pengujian stasioneritas data dilanjutkan pada tingkat first difference. Hasil pengujiannya menunjukkan uji DF lebih kecil dari nilai kritisnya, maka dapat disimpulkan bahwa H0 ditolak yang berarti data sudah stasioner pada orde 1 atau I(1).

af kepercayaan 10%

Hasil pengujian ADF menunjukkan bahwa pada tingkat level, baik dengan intercept, intercept and trend  data harga beras di pasar Inpres Lawang tidak stasioner. Hal ini ditunjukkan dengan uji ADF lebih besar dari nilai kritisnya.  Untuk itu pengujian stasioneritas data dilanjutkan pada tingkat first difference. Hasil pengujiannya menunjukkan uji ADF lebih kecil dari nilai kritisnya, maka dapat disimpulkan bahwa H0 ditolak yang berarti data sudah stasioner pada orde 1 atau I(1).


 

  1. Perkembangan Harga Beras di Pasar Tumpang

Harga beras bulanan di pasar Tumpang selama kurun waktu lima tahun (2005-2010) selalu berfluktuasi. Harga beras terendah terjadi pada bulan Pebruari-Maret dan bulan Juli-Agustus 2006, yakni sebesar Rp 1750, sedangkan harga beras tertinggi terjadi pada bulan Agustus-Desember 2010, yakni sebesar Rp 3250. Terjadi kestabilan harga yang cukup panjang pada bulan September 2006 sampai dengan Desember 2008, yakni sebasar Rp 2000/kg.

Gambar  3. Harga Beras Bulanan dari Tahun 2006-2010 di

                                  Pasar Produsen Tumpang

Pada bulan Januari sampai dengan bulan Pebruari 2009 harga beras bergerak pada tingkatan rendah, yakni sebesar Rp 2800/kg, sedangkan pada bulan Maret-Desember harga beras bergerak pada tingkatan yang lebih tinggi, yakni sebesar Rp 3000/kg. Pada tahun 2009 dan 2010, harga beras berada pada tingkatan yang stabil, yakni sebesar Rp 3000/kg. Sedangkan pada tahun 2010 harga beras sangat berfluktuasi dengan trand yang terus meningkat. Harga terendah berada pada bulan Januari selanjutnya harga bergerak naik dan mencapai harga yang tertinggi pada bulan Desember, yakni sebesar Rp 3200/kg. Sedangkan selama bulan Maret-Oktober harga tidak berubah, yakni sebesar Rp 3000/kg.

Gambar 3 di atas terlihat bahwa harga selalu berfluktuasi, sehingga dapat dikatakan data harga tersebut cenderung tidak stasioner. Selain secara grafik, penentuan pola pergerakan data harga beras dapat dilakukan melalui 2 macam pengujian secara formal, yaitu korelogram dan unit root test. Pada dasarnya korelogram merupakan teknik identifikasi stasioneritas data time series melalui Fungsi Autokorelasi (Autocorrelation Function = ACF). Pengujian korelogram pada tingkat level menunjukkan data beras tidak stasioner. Hal ini ditunjukkan dengan berbagai indikator berikut:

  • Grafik autokorelasi pada lag pertama berada diluar garis Bartlett dan menurun secara eksponensial atau perlahan, semakin kecil dan bila diteruskan akan keluar lagi dari garis Bartlett, meskipun grafik batang berpindah ke sebelah kiri.
  • Nilai koefisien autokorelasi (lihat kolom AC) cukup besar, yaitu 0,939 (dari kemungkinan -1 sampai dengan 1) dan menurun secara perlahan-lahan. Dalam hal ini dapat dikatakan bahwa nilai koefisien autokorelasi mendekati satu.
  • Nilai probabilitas dari lag ke-1 sampai dengan lag ke-28 yang sangat mendekati nol, yang berarti lebih kecil dari α = 5%

Pengujian korelogram dilanjutkan pada tingkat first difference untuk melihat kestasioneran data pada tingkat tersebut. Hasil pengujian menunjukkan data sudah stasioner pada orde 1 atau I(1). Hal ini ditunjukkan dengan berbagai indikator berikut:

  • Grafik autokorelasi dan autokorelasi parsial menunjukkan bahwa semua grafik batang sudah berada di dalam garis Bartlett (garis putus-putus).
  • Nilai koefisien autokorelasi (lihat kolom AC) mendekati nol.
  • Nilai probabilitas lebih besar dari α = 5%.

Pengujian stasioneritas data harga beras secara formal yang kedua adalah dengan menggunakan unit rooot test, yaitu Dickey-Fuller (DF) test dan Augmented Dickey-Fuller (ADF) Test.

Tabel 3. Dickey-Fuller (DF) test dan Augmented Dickey-Fuller (ADF) Test di tingkat Tumpang

Hasil pengujian DF pada tabel diatas menunjukkan bahwa pada tingkat level, baik dengan intercept maupun dengan intercept and trend  data harga beras tidak stasioner. Hal ini ditunjukkan dengan uji DF lebih besar dari nilai kritisnya.  Untuk itu pengujian stasioneritas data dilanjutkan pada tingkatan first difference. Hasil pengujiannya menunjukkan uji DF lebih kecil dari nilai kritisnya, maka dapat disimpulkan bahwa H0 ditolak yang berarti data sudah stasioner pada orde 1 atau I(1).

Hasil pengujian ADF menunjukkan bahwa pada tingkat level, baik dengan intercept, intercept and trend  maupun none data harga beras di Pasar Tumpang tidak stasioner. Hal ini ditunjukkan dengan uji ADF lebih besar dari nilai kritisnya.  Untuk itu pengujian stasioneritas data dilanjutkan pada tingkat first difference. Hasil pengujiannya menunjukkan uji ADF lebih kecil dari nilai kritisnya, maka dapat disimpulkan bahwa H0 ditolak yang berarti data sudah stasioner pada orde 1 atau I(1).

Analisis Integrasi Pasar Beras

Analisis Integrasi Pasar Horisontal

Data time series yang digunakan telah dilakukan uji stasioneritas seperti pada sub bab di atas, dimana variabel yang diteliti sudah stasioner pada derajad atau orde yang sama, yaitu pada orde 1 atau I(1). Pengujian integrasi pasar horisontal selanjutnya menggunakan uji kointegrasi. Hasil uji kointegrasi diperoleh bahwa nilai residual antara pasar Inpres Gadang dengan pasar Lawang telah mencapai stasioner pada tingkat first difference atau I(1) baik pada intercept, trend and intercept, dan none. Besarnya nilai koefisien keseimbangan jangka panjang pada intercept sebesar -0,982665, pada trend and intercept sebesar -0,982679, dan pada none sebesar -0,979083.  Dari nilai uji ADF lebih kecil dari nilai kritisnya dengan nilai probalilitas lebih kecil dari 0,0100. Hal ini menunjukkan bahwa nilai residual antara pasar Gadang dengan pasar Lawang telah stasioner pada tingkat kepercayaan 99%.  Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa perubahan harga ditingkat pasar Lawang akan diikuti oleh perubahan harga ditingkat pasar Gadang dalam jangka panjang. Hal ini disebabkan tersedianya sarana-prasarana transportasi dan komunikasi yang cukup lancar dan memadai. Oleh karena itu apabila terjadi perubahan harga beras di pasar  Lawang akan diikuti oleh perubahan harga ditingkat pasar  Gadang dalam jangka panjang.

Analisis integrasi pasar horisontal selanjutnya adalah melalui error corection model (ECM). Tujuannya adalah untuk mengetahui gambaran hubungan keseimbangan dinamis jangka pendek dan keseimbangan jangka panjang dari pasar  Gadang dan pasar  Lawang.

Tabel 4. Uji Error Correction Model (ECM) pasar  Gadang  dan pasar  Lawang

Variabel Koefisien t-Statistik Prob. Adjusted R-squared
C 120,0441 0,580926 0,5637 0,126707
D(A) 0,371083 1,538042 0,1298
A(-1) -0,034957 -0,547430 0,5863
ECT1 0,224671 2,945186 0,0047***

Keterangan:

***) Signifikan pada taraf kepercayaan 1%

                              C = konstanta

                              D(A) = Variabel harga beras di tingkat pasar Inpres Lawang

A(-1) = Variabel harga beras di tingkat pasar Inpres Lawang pada periode sebelumnya (t-1)

                              ECT1 = Error Correction Term

Model ECM antara PKt dan PA sebagai berikut:

ΔPKt  = 120,044 + 0,371ΔPAt – 0,035PAt -1 + 0,225ECT1             

Secara statistik, ECT signifikan dan bertanda positif, sehingga model yang digunakan dalam penelitian ini valid. Dari persamaan diatas, dapat dikatakan bahwa dalam jangka pendek harga di pasar  Gadang di pengaruhi oleh harga di pasar  Lawang. Pengaruh jangka pendek harga di pasar Lawang terhadap harga di pasar Gadang sebesar  0,371083. Hal ini berarti bahwa kenaikan harga beras di pasar Lawang sebesar Rp 10 akan menyebabkan kenaikan harga beras di pasar Gadang sebesar Rp. 3,71. Nilai Adjusted R-squared sebesar 0,126707.  Nilai tersebut mempunyai arti bahwa 12,67% dari variasi atau perubahan variabel harga di pasar Gadang mampu dijelaskan oleh variasi atau perubahan variabel harga di pasar Lawang, sedangkan sisanya sebesar 87,23% dijelaskan oleh variabel lain di luar dari model yang diajukan. Nilai Adjusted R-squared  tersebut relatif rendah, karena nilai tersebut diperoleh pada tingkat difference (first difference), sehingga Adjusted R-squared  lebih rendah ketika mengestimasi dalam bentuk level.

Pengaruh jangka panjang harga beras di pasar Inpres Lawang terhadap harga beras di pasar Inpres Gadang dengan persamaan dibawah maka :

PKt  = a + bPAt

Dimana: PKt  = 1,651673 + 0,844408PAt

Persamaan diatas dapat diinterpretasikan bahwa dalam jangka panjang, kenaikan harga beras di pasar Lawang sebesar Rp 10 akan menyebabkan kenaikan harga beras di pasar  Gadang sebesar  Rp. 8,44.

Bila dibandingkan besaran kenaikan harga di tingkat pasar Gadang antara jangka pajang dengan jangka pendek, maka dapat dikatakan bahwa  kenaikan harga beras di tingkat pasar Gadang dalam jangka panjang lebih besar daripada dalam jangka pendek.

Eksistensi hubungan antar variabel tidak membuktikan kausalitas atau arah pengaruh. Untuk itu untuk mengetahui arah pengaruh harga beras dapat diketahui dengan pengujian Kausalitas Granger. Pengujian Kausalitas Granger memungkinkan untuk menganalisis variabel mana mendahului atau memberi petunjuk variabel lain. Nilai probabilitas untuk null hypothesis K does not Granger Cause A sebesar  0.09661. Nilai probalilitas tersebut menunjukkan bahwa hipotesis nol (H0) ditolak pada tingkat kepercayaan 90%. Sehingga dapat dikatakan bahwa perubahan harga beras di pasar Lawang akan menyebabkan perubahan harga beras di pasar  Gadang. Sedangkan nilai probalilitas untuk null hypothesis A does not Granger Cause K sebesar  0.31387. Nilai probalilitas tersebut lebih besar dari 0,1. Ini berarti hipotesis nol (H0) diterima, sehingga dapat dikatakan bahwa perubahan harga beras di pasar Gadang tidak akan menyebabkan perubahan harga beras di pasar Lawang.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa hubungan antara harga beras di pasar Lawang dengan harga beras di pasar Gadang mempunyai satu arah pengaruh, yaitu perubahan harga beras di pasar Lawang akan menyebabkan perubahan harga beras di pasar Gadang, tetapi tidak sebaliknya, yaitu perubahan harga beras di pasar Gadang tidak akan menyebabkan perubahan harga beras di pasar Lawang. Jadi perubahan harga beras di pasar  Lawang mendahului perubahan harga beras di pasar  Gadang.

Analisis Integrasi Pasar Vertikal

Analisis integrasi pasar vertikal dilihat dari pergerakan harga beras bulanan selama kurun waktu 5 tahun (2006-2010) yang terjadi di pasar produsen dengan pasar konsumen, yaitu antara pasar Tumpang dengan pasar Gadang dan antara pasar Tumpang dengan pasar  Lawang.

  1. Analisis Integrasi Pasar Vertikal antara Pasar Tumpang dengan Pasar Lawang

 

Data time series yang digunakan untuk menganalisis Integrasi Pasar Vertikal antara pasar Tumpang dengan pasar Lawang telah dilakukan uji stasioneritas seperti pada sub bab di atas, dimana variabel yang diteliti sudah stasioner pada derajad atau orde yang sama, yaitu orde 1 atau I (1). Pengujian intergasi pasar vertikal selanjutnya menggunakan uji kointegrasi. Hasil uji kointegrasi diperoleh bahwa nilai residual antara pasar Tumpang dengan pasar  Lawang telah mencapai stasioner pada tingkat first difference atau I(1) baik pada intercept, trend and intercept, dan none (lihat lampiran 11). Besarnya nilai koefisien keseimbangan jangka panjang pada intercept sebesar -0,973801, pada trend and intercept sebesar -0,972775, dan pada none sebesar -0,972176. Nilai uji ADF lebih kecil dari nilai kritisnya dengan nilai probalilitas sebesar 0,0000 (lebih kecil dari 0,0100). Hal ini menunjukkan bahwa nilai residual antara pasar Tumpang dengan pasar  Lawang telah stasioner pada tingkat kepercayaan 99%. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa perubahan harga ditingkat pasar  Lawang akan diikuti oleh perubahan harga ditingkat pasar Tumpang dalam jangka panjang.

Analisis integrasi pasar vertikal antara pasar Tumpang dengan pasar  Lawang selanjutnya adalah melalui error corection model (ECM). Tujuannya adalah untuk mengetahui gambaran hubungan keseimbangan dinamis jangka pendek dan keseimbangan jangka panjang.

Tabel 5.  Uji Error Correction Model (ECM) pasar Tumpang dan  pasar  Lawang

Variabel Koefisien t-Statistik Prob. Adjusted R-squared
C 3.968386 0.035271 0.9720 0,132712
D(A) 0.315185 2.369130 0.0214**
A(-1) 0.002693 0.077412 0.9386
ECT2 0.191731 2.803359 0.0070***

Keterangan:

                        **) Signifikan pada taraf kepercayaan 5%

***) Signifikan pada taraf kepercayaan 1%

                              C = konstanta

                              D(KA) = Variabel harga beras di tingkat pasar Inpres Lawang

KA(-1) = Variabel harga beras di tingkat pasar Inpres Lawang pada periode sebelumnya (t-1)

                              ECT2 = Error Correction Term

Model ECM antara PBt dan PAt adalah:

ΔPBt  = 3,968 + 0,315ΔPAt + 0,003PAt -1 + 0,192ECT2                  

Secara statistik, ECT signifikan dan bertanda positif, sehingga model yang digunakan dalam penelitian ini valid. Dari persamaan diatas, dapat dikatakan bahwa dalam jangka pendek harga di pasar Tumpang dipengaruhi oleh harga di pasar Lawang. Pengaruh jangka pendek harga di pasar  Lawang terhadap harga di pasar Tumpang sebesar 0.315185. Hal ini berarti bahwa kenaikan harga beras di pasar  Lawang sebesar Rp 10 akan menyebabkan kenaikan harga beras di pasar Tumpang sebesar Rp. 3,15. Nilai Adjusted R-squared sebesar 0.132712. Nilai tersebut mempunyai arti bahwa 13,27% dari variasi atau perubahan variabel harga di pasar Tumpang mampu dijelaskan oleh variasi atau perubahan variabel harga di pasar  Lawang, sedangkan sisanya sebesar 86,73% dijelaskan oleh variabel lain di luar dari model yang diajukan. Nilai Adjusted R-squared  tersebut relatif rendah, karena nilai tersebut diperoleh pada tingkat difference (first difference), sehingga Adjusted R-squared  lebih rendah ketika mengestimasi dalam bentuk level.

PBt  = a + bPAt

Dimana:

PBt  = 20,69768 +1,014046PAt

Dari persamaan diatas dapat diinterpretasikan bahwa dalam jangka panjang, kenaikan harga beras di pasar  Lawang sebesar Rp 10 akan menyebabkan kenaikan harga beras di pasar Tumpang sebesar Rp. 10,14.

Bila dibandingkan besaran kenaikan harga di tingkat pasar  Gadang antara jangka pajang dengan jangka pendek, maka dapat dikatakan bahwa  kenaikan harga beras di tingkat pasar Tumpang dalam jangka panjang lebih besar daripada dalam jangka pendek.

Eksistensi hubungan antara variabel tidak membuktikan kausalitas atau arah pengaruh. Arah pengaruh harga beras dapat diketahui dengan pengujian Kausalitas Granger. Pengujian Kausalitas Granger memungkinkan untuk menganalisis variabel mana mendahului atau memberi petunjuk variabel lain. Hasil pengujian Kausalitas Granger diketahui nilai probabilitas untuk null hypothesis A does not Granger Cause B sebesar  0.06449. Nilai probalilitas tersebut menunjukkan bahwa hipotesis nol (H0) ditolak pada tingkat kepercayaan 90%. Sehingga dapat dikatakan bahwa perubahan harga beras di pasar  Lawang akan menyebabkan perubahan harga beras di pasar Tumpang. Sedangkan nilai probalilitas untuk null hypothesis KA does not Granger Cause KK sebesar  0.25381. Nilai probalilitas tersebut lebih besar dari 0,1. Ini berarti hipotesis nol (H0) diterima, sehingga dapat dikatakan bahwa perubahan harga beras di pasar I Tumpang tidak akan menyebabkan perubahan harga beras di pasar  Lawang.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa hubungan antara harga beras di pasar Lawang dengan harga beras di pasar Tumpang  mempunyai satu arah pengaruh, yaitu perubahan harga beras di pasar Lawang akan menyebabkan perubahan harga beras di pasar Tumpang, tetapi tidak sebaliknya, yaitu perubahan harga beras di pasar pasar Tumpang tidak akan menyebabkan perubahan harga beras di pasar Lawang. Jadi perubahan harga beras di pasar  Lawang mendahului perubahan harga beras di pasar Tumpang.

  1. Analisis Integrasi Pasar Vertikal antara pasar Tumpang dengan pasar Gadang

Data time series yang digunakan untuk menganalisis Integrasi Pasar Vertikal antara pasar Tumpang dengan pasar Inpres Gadang telah dilakukan uji stasioneritas seperti pada sub bab di atas, dimana variabel yang diteliti sudah stasioner pada derajad yang sama, yaitu pada orde 1 atau I (1). Pengujian integrasi pasar vertikal antara pasar Tumpang dengan pasar Gadang selanjutnya menggunakan uji kointegrasi. Hasil uji kointegrasi diperoleh bahwa nilai residual antara pasar Tumpang dengan pasar Gadang telah mencapai stasioner pada tingkat first difference atau I(1) baik pada intercept, trend and intercept, dan none. Besarnya nilai koefisien keseimbangan jangka panjang pada intercept sebesar -0,989434, pada trend and intercept sebesar -0,985777, dan pada none sebesar -0,982714. Nilai uji ADF lebih kecil dari nilai kritisnya dengan nilai probalilitas sebesar 0,0000 (lebih kecil dari 0,0100). Hal ini menunjukkan bahwa nilai residual antara pasar Tumpang dengan pasar  Gadang telah stasioner pada tingkat kepercayaan 99%.  Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa perubahan harga ditingkat pasar Gadang akan diikuti oleh perubahan harga ditingkat pasar Tumpang dalam jangka panjang.

Tabel 6. Uji Error Correction Model (ECM) pasar Tumpang dan pasar Inpres Gadang

Variabel Koefisien t-Statistik Prob. Adjusted R-squared
C -31.38196 -0.358251 0.7215 0,155510
D(KK) 0.143005 2.061628 0.0440**
KK(-1) 0.015736 0.585249 0.5608
ECT03 0.134566 1.920431 0.0600*

Keterangan:

*) Signifikan pada taraf kepercayaan 10%

**) Signifikan pada taraf kepercayaan 5%

***) Signifikan pada taraf kepercayaan 1%

                              C = konstanta

                              D(KK) = Variabel harga beras di tingkat pasar Inpres Gadang

KK(-1) = Variabel harga beras di tingkat pasar Inpres Gadang pada periode sebelumnya (t-1)

                              ECT03 = Error Correction Term

Analisis integrasi pasar vertikal antara pasar Tumpang dengan pasar Gadang selanjutnya adalah melalui error corection model (ECM). Tujuannya adalah untuk mengetahui gambaran hubungan keseimbangan dinamis jangka pendek dan keseimbangan jangka panjang.

Model ECM antara PPBt dan PKt adalah:

ΔPBt  = -31,382 + 0,143ΔPKt + 0,016PKt -1 + 0.135ECT3   

Secara statistik, ECT signifikan dan bertanda positif, sehingga model yang digunakan dalam penelitian ini valid. Pengaruh jangka pendek harga di pasar Gadang terhadap harga di pasar Tumpang sebesar 0.143005. Hal ini berarti bahwa kenaikan harga beras di pasar Lawang sebesar  Rp 10 akan menyebabkan kenaikan harga beras di pasar  Gadang sebesar Rp. 1,43. Nilai Adjusted R-squared sebesar 0.155510. Nilai tersebut mempunyai arti bahwa 15,55% dari variasi atau perubahan variabel harga di pasar Tumpang mampu dijelaskan oleh variasi atau perubahan variabel harga di pasar Gadang, sedangkan sisanya sebesar 86,73% dijelaskan oleh variabel lain di luar dari model yang diajukan. Nilai Adjusted R-squared  tersebut relatif rendah, karena nilai tersebut diperoleh pada tingkat difference (first difference), sehingga Adjusted R-squared  lebih rendah ketika mengestimasi dalam bentuk level.

PBt  = a + bKt

Dimana: PBt  = -233,20868 +1,116939Kt

Dalam jangka panjang, kenaikan harga beras di pasar Lawang sebesar Rp 10 akan menyebabkan kenaikan harga beras di pasar Gadang sebesar  Rp. 11,17.

Bila dibandingkan besaran kenaikan harga di tingkat pasar Gadang antara jangka panjang dengan jangka pendek, maka dapat dikatakan bahwa kenaikan harga beras di tingkat pasar    dalam jangka panjang lebih besar daripada dalam jangka pendek.

Eksistensi hubungan antara variabel tidak membuktikan kausalitas atau arah pengaruh. Arah pengaruh harga beras dapat diketahui dengan pengujian Kausalitas Granger. Pengujian Kausalitas Granger memungkinkan untuk menganalisis variabel mana mendahului atau memberi petunjuk variabel lain.

Nilai probabilitas untuk null hypothesis B does not Granger Cause K sebesar 0.09792. Nilai probalilitas tersebut menunjukkan bahwa H0  ditolak pada tingkat kepercayaan 90%. Sehingga dapat dikatakan bahwa perubahan harga beras di pasar  Gadang akan menyebabkan perubahan harga beras di pasar Tumpang. Sedangkan nilai probalilitas untuk null hypothesis KK does not Granger Cause B sebesar   0.49444. Nilai probalilitas tersebut lebih besar dari 0,1. Ini berarti H0 diterima, sehingga dapat dikatakan bahwa perubahan harga beras di pasar  Gadang tidak akan menyebabkan perubahan harga beras di pasar Tumpang.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa hubungan antara harga beras di pasar  Gadang dengan harga beras di pasar Tumpang  mempunyai satu arah pengaruh, yaitu perubahan harga beras di pasar Gadang akan menyebabkan perubahan harga beras di pasar Tumpang, tetapi tidak sebaliknya, yaitu perubahan harga beras di pasar Tumpang tidak akan menyebabkan perubahan harga beras di pasar  Gadang. Jadi perubahan harga beras di pasar  Gadang mendahului perubahan harga beras di pasar Tumpang.

Hubungan antara Struktur Pasar, Saluran Pemasaran, Margin Pemasaran dan Integrasi Pasar yang Diperoleh dalam  Pengkajian

Dari hasil pengkajian yang dilakukan di Kecamatan Tumpang menunjukkan bahwa struktur pasar yang terjadi di tingkat petani adalah persaingan tidak sempurna, yakni oligopsoni. Hal ini berarti derajad konsentrasi di wilayah pasar tersebut secara umum terjadi ketidak-seimbangan kekuatan posisi tawar antara­ petani (penjual) dengan pedagang (pembeli) atau adanya  kesulitan masuk-keluar pasar bagi penjual dan pembeli, informasi pasar tidak dapat diakses secara merata oleh berbagai pelaku pasar, terutama petani. Struktur pasar tersebut mendorong pedagang mendominasi penentuan harga beras, sedangkan petani berada pada posisi yang lemah. Pada kondisi tersebut petani tidak  mempunyai banyak pilihan dalam menyalurkan produknya, apalagi jumlah beras yang diproduksi dan dijual oleh petani secara perorangan tidak terlalu banyak.

Saluran pemasaran yang terjadi adalah sebanyak 5 saluran, namun secara umum dapat diklasifikasi atas 2 macam, yaitu: petani-pedagang pengumpul-konsumen dan petani-pedagang pengumpul-pedagang pengecer-konsumen. Jika saluran pemasaran yang terjadi tersebut dibandingkan dengan hasil penelitian lain, maka dapat dikatakan bahwa saluran tersebut relatif pendek.

Mardianto et al (2005) mengatakan bahwa struktur pasar akan berdampak pada nilai margin pemasaran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa distribusi margin pemasaran tidak metara/adil dan share harga yang diterima petani relatif kecil, sedangkan keuntungan lebih banyak dinikmati oleh pedagang. Margin pemasaran terbesar dikuasai oleh pedagang pengumpul. Hal ini disebabkan oleh jumlah petani jauh lebih banyak daripada pedagang pengumpul dan jumlah beras yang diproduksi oleh petani secara perorangan tidak terlalu banyak serta dalam penjualan beras petani menjual secara perorangan pula, sehingga posisi tawar petani terhadap harga jual beras lebih lemah daripada pedagang pengumpul. Penentuan harga beras bergantung pada pedagang pengumpul sebagai price maker, sedangkan petani hanya bertindak sebagai price taker.

Pengukuran integrasi pasar dapat digunakan sebagai data dasar untuk memahami mekanisme pasar (Ravallion, 1986) dan sebagai bahan informasi bagi pemerintah dalam rangka merumuskan kebijakan, berupa penyediaan infrastruktur dan jasa layanan informasi untuk menghindari eksploitasi pasar (Lohano dan Mari, 2006). Hasil penelitian menunjukkan bahwa integrasi pasar harisontal antara pasar Gadang dengan pasar Lawang menunjukkan bahwa perubahan harga di tingkat pasar Lawang akan diikuti oleh perubahan harga di tingkat pasar  Gadang, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang.

Perubahan harga beras dalam jangka pendek di pasar Lawang sebesar Rp 10 akan menyebabkan perubahan harga beras di pasar  Gadang sebesar Rp. 3,71. Demikian juga dengan perubahan harga beras dalam jangka panjang. Perubahan harga beras di pasar  Lawang sebesar Rp 10 akan menyebabkan perubahan harga beras di pasar  Gadang sebasar Rp. 8,44. Perubahan harga yang tidak sebanding ini, diduga disebabkan konsumen di pasar  Gadang tidak bergantung sepenuhnya pada beras produksi Kecamatan Tumpang.

Perubahan harga beras dalam jangka pendek di pasar Lawang sebesar Rp 10 akan menyebabkan perubahan harga beras di pasar Tumpang sebesar Rp. 3,15. Demikian juga dengan perubahan harga beras dalam jangka panjang. Perubahan harga beras di pasar  Lawang sebesar Rp 10 akan menyebabkan perubahan harga beras di pasar Kecamatan Tumpang sebasar Rp. 10,14. Perubahan harga yang tidak sebanding ini, menunjukkan integrasi pasar vertikal antara pasar Tumpang dengan pasar Lawang belum sempurna. Hal ini disebabkan tidak sempurnanya informasi pasar di tingkat petani, sehingga dominasi penentuan harga jual beras di tingkat petani ditentukan oleh pedagang pengumpul sebagai akibat dari struktur pasar oligapsoni.

Integrasi pasar vertikal antara pasar Tumpang dengan pasar Inpres Gadang menunjukkan bahwa perubahan harga di tingkat pasar  Gadang akan diikuti oleh perubahan harga di tingkat pasar Tumpang, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Perubahan harga beras dalam jangka pendek di pasar  Gadang sebesar Rp 10 akan menyebabkan perubahan harga beras di pasar pasar Tumpang sebesar Rp. 1,43. Demikian juga dengan perubahan harga beras dalam jangka panjang. Perubahan harga beras di pasar  Gadang sebesar Rp 10 akan menyebabkan perubahan harga beras di pasar Kecamatan Tumpang sebasar Rp. 11,17. Perubahan harga yang tidak sebanding ini, menunjukkan integrasi pasar vertikal antara pasar Tumpang dengan pasar  Gadang belum sempurna.

Dengan mengetahui integrasi pasar yang terjadi pada setiap tingkat pasar, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang yang menunjukan belum sempuna, berarti masih terdapat peluang untuk memperbaiki sistem pemasaran beras di lokasi penelitian. Selain integrasi pasar, juga ditunjukkan dengan struktur pasar yang terjadi, yakni oligopsoni dan margin pemasaran yang belum terdistribusi secara merata/adil. Untuk memperkuat posisi petani dalam memperoleh harga beras jual yang lebih tinggi, maka petani dapat bersatu dalam kelompok tani, sehingga pedagang tidak dapat dengan mudah mempermainkan harga beras di tingkat petani. Sedangkan dalam pilihan saluran pemasaran, petani diharapkan tidak lagi memilih saluran I dan V. Diharapkan pula kepada pemerintah dan instansi terkait kiranya dapat menyediakan sarana produksi seperti hand traktor dan perontok padi bagi petani, guna membantu petani pada awal periode usahatani maupun saat panen. Hal ini bertujuan untuk menghindarkan petani dari praktek-praktek pasar yang cenderung merugikan petani secara ekonomi, karena petani sering terikat pada praktek penjualan beras dengan sistem ijon bahkan pada awal usahatani. Selain itu diharapkan kepada pemerintah perlunya meningkatkan layanan informasi pasar yang lebih baik dan akurat.

  1. KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

Dari hasil dan pembahasan penelitian ini dapat ditarik beberapa kesimpulan sebagai berikut:

  1. Integrasi pasar beras secara horisontal antara pasar Gadang dengan pasar Lawang menunjukkan bahwa perubahan harga ditingkat pasar  Lawang akan diikuti oleh perubahan harga ditingkat pasar  Gadang dalam jangka panjang. Hal ini disebabkan tersedianya sarana transportasi dan komunikasi yang cukup lancar dan memadai.
  2. Adanya Integrasi pasar beras secara vertikal antara pasar Kecamatan Tumpang dengan pasar Lawang dan antara pasar Kecamatan Tumpang dengan pasar Gadang, baik dalan jangka panjang maupun jangka pendek, sehingga terjadi perubahan harga di pasar Lawang dan pasar Gadang akan diikuti oleh perubahan harga ditingkat pasar Kecamatan Tumpang. Namun perubahan harga di pasar Lawang dan pasar Gadang belum diikuti sepenuhnya oleh perubahan harga ditingkat pasar Kecamatan Tumpang. Hal ini disebabkan petani tidak memiliki informasi pasar yang cukup memadai atau sempurna, sehingga dominasi penentuan harga di tingkat petani ditentukan oleh pedagang pengumpul sebagai akibat dari struktur pasar oligapsoni.

Saran

Pada kesempatan ini beberapa saran dapat disampaikan, antara lain:

  1. Pemerintah perlu menyediakan program terpadu berupa pendanaan usahatani padi dan penyediaan peralatan, seperti hand traktor dan perontok padi bagi petani, guna membantu petani pada awal periode usahatani maupun saat panen. Hal ini bertujuan untuk menghindarkan petani dari praktek-praktek pasar yang cenderung merugikan petani secara ekonomi.
  2. Agar pemasaran beras dapat lebih menguntungkan petani (lebih terintegrasi), diharapkan kepada pemerintah perlunya meningkatkan layanan informasi pasar yang lebih baik dan akurat.


 

DAFTAR PUSTAKA

 

Anindita, Ratya. 2004. Pemasaran Hasil Pertanian. Papyrus. Surabaya.

Anugrah, Iwan Setiajie. 2004. Pengembangan Sub terminal Agribisnis (STA) dan Pasar Lelang Komoditas Pertanian dan Permasalahannya. Forum Penelitian Agro Ekonomi Volume 22 No.2 Desember 2004 : 102-112. Bogor.

Badan Agribisnis Departemen Pertanian. 2000. Petunjuk Teknis Pengembangan Sub Terminal Agribisnis. Jakarta.

Cahyono, B.. 2003. Wortel, Teknik Budidaya dan Analisis Usahatani. Cetakan ke-2. Kanisius, Yogyakarta.

Clodius, Robert L. dan Willard F. Mueller. 1967. Market Structure Analysis as an Orientation for Research in Agricultural Economics. American Journal of Agricultural Economics.

Downey, W.D. dan S.P. Erickson. 1992. Manajemen Agribisnis, Alih Bahasa Rochiyat Ganda S. dan Alfonsus Sirait. Penerbit Erlangga. Jakarta.

Harriss, B.. 1993. There is Method in My Madness: or is it Vice Versa? Measuring Agricultural Market Performance. Agricultural and Food Marketing in Developing Countries, Selected Readings. C.A.B. International. Wallingford Oxon.

Hendratno, Sinung. 1996. Keragaan Pasar Lelang Bokar dan Reformulasi Konsepsi untuk Pengembangannya. Jurnal Penelitian Karet Volume 14 No.2 Agustus. Bogor.

 Kohls, R.L. dan Joseph N. Uhl. 1986. Marketing of Agricultural Product. Fifth Edition. John Willey and Sons, Macmillan Publishing Co-Inc., New York.

Mardjoko, Tri. 2004. Pasar Lelang : Harapan Baru Memperbaiki Posisi Tawar Petani. http:// www.google.co.id. Diakses : 3 Januari 2006.

Marpaung, Karmen. 1998. Analisis Pemasaran Karet Rakyat dalam Upaya Meningkatkan Harga di Tingkat Petani (Studi Kasus pada Sentra Produksi di Kecamatan Kumai, Kalimantan Tengah). Tesis. Program Pasca Sarjana Universitas Brawijaya. Malang.

 Martin, Stephen. 1989. Industrial Economics : Economic Analysis and Public Policy. Macmillan Publishing Company. New York.

 Masyrofie. 1994. Pemasaran Hasil-hasil Pertanian. Diktat Kuliah Jurusan Sosial Ekonomi. Fakultas Pertanian. Universitas Brawijaya. Malang.

 Monke, Erick dan Todd Petzel. 1984. Market Integration: an Application to International Trade in Cotton. American Journal of Agricultural Economics.

 Mustajab, M. Muslich dan Nuhfil Hanani. 2001. Tipe Penelitian dan Teknik Sampling. Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian. Fakultas Pertanian. Universitas Brawijaya. Malang.

Categories: Uncategorized | Leave a comment

PRAKTEK KOMPETENSI PESERTA DIKLAT BAGI PENYULUH PERTANIAN AHLI

PRAKTEK KOMPETENSI PESERTA DIKLAT BAGI PENYULUH PERTANIAN AHLI

DI UPT-BP KECAMATAN NGANTANG

 

Strategi mewujudkan sumberdaya manusia pertanian yang berkualitas, adalah melalui peningkatan kualifikasi aparat pertanian dan kualifikasi spesialisasi jabatan. Dengan diberlakukannya Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2006 tentang Sistem Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan Kehutanan, peranan Penyuluh Pertanian menjadi semakin strategis dalam memfasilitasi proses pemberdayaan petani dan keluarganya. Oleh karena itu, peningkatan kemampuan Penyuluh Pertanian dalam mengidentifikasi kebutuhan dan potensi petani dan pelaku agribisnis lainnya menjadi penting.

Pada tanggal 26 April s.d 01 Mei 2014, Divisi Diklat Penyuluhan BBPP Batu telah melaksanakan kegiatan praktek kompetensi yang dilaksanakan di Unit Pelaksana Teknis Badan Penyuluhan (UPT-BP) Kecamatan Ngantang. Pelaksanaan kegiatan praktek kompetensi terfokus di tiga desa yang meliputi desa Kaumrejo, desa Sumberagung dan desa Pandansari yang merupakan desa yang terkena langsung dampak erupsi gunung kelud.

Praktek kompetensi merupakan kegiatan yang dilakukan guna memenuhi persyaratan untuk memenuhi kurikulum diklat tersebut diatas dan mecapai tujuan dari kegiatan pembelajaran. Kompetensi Dasar  yang diharapkan peserta mampu melakukan identifikasi potensi wilayah dan  agroekosistem dengan menggunakan pendekatan PRA, menyusun programa penyuluhan tingkat desa, menyusun rencana kerja tahunan penyuluhan pertanian, menyusun materi penyuluhan pertanian, memilih metode penyuluhan, membuat alat bantu atau media penyuluhan, serta melakukan kegiatan penyuluhan pertanian di wilayah desa yang ditempati kegiatan praktek kompetensi.

Tujuan  dilaksanakan praktik  kompetensi bagi peserta diklat adalah; a) Mengaplikasikan materi diklat yang diterima selama proses belajar mengajar di ruang kelas seperti; Identifikasi potensi wilayah, Menyusun programa penyuluhan pertanian, menyusun rencan kerja, melakukan evaluasi penyuluhan pertanian.b) Memupuk rasa percaya diri peserta diklat dalam menjalankan tugas  sebagai penyuluh pertanian, c) Meningkatkan kompetensi peserta diklat sebagai penyuluh pertanian ahli.

Kegiatan praktek kompetensi ini dilaksanakan berdasarkan peraturan Kepala Badan Pengembangan Sumberdaya Manusia nomor 5/PER/KP.430/J/1/10  tanggal 18 Januari 2010 tentang pedoman umum penyelenggaran diklat  fungsional bagi penyuluh pertanian, dimana disebutkan bahwa kurikulum diklat dasar  bagi penyuluh pertanian ahli terdiri dari 150 jam pelajaran (JP) termasuk diantaranya 56 JP untuk kegiatan praktek kompetensi.

Peserta diklat dalam kegiatan praktek kompetensi merasa sangat senang hal ini ditunjukkan dengan antusias para peserta diklat untuk melakukan anjangsana di rumah masyarakat desa dan bersama-sama mengikuti  kegiatan bapak, ibu serta pemuda tani desa dilapangan. Dari kegiatan praktek kompetensi masyarakat desa sangat terbuka dan siap untuk ditempati sebagai lokasi kegiatan praktek kompetensi yang dilaksanakan oleh Divisi Diklat Penyuluhan Balai Besar Pelatihan Peternakan Batu.

TIPS PERSIAPAN KEGIATAN PENYULUHAN

Penyuluhan pertanian ialah suatu sistem pendidikan non formal di luar bangku sekolah, berfungsi menyebarluaskan ilmu pengetahuan dan teknologi pertanian dengan tujuan agar petani dan nelayan dapat bertani lebih baik (better farming), berusaha tani lebih menguntungkan (better bussines) dan hidup lebih sejahtera (better living).

Perencanaan kegiatan penyuluhan adalah proses pembuatan keputusan tentang arah kegiatan penyuluhan didasarkan pada prioritas masalah yang hendak dipecahkan untuk mencapai tujuan. Pelaksanaan  kegiatan penyuluhan pertanian memerlukan persiapan yang baik supaya tujuan perubahan perilaku pelaku utama dapat tercapai.

Dalam mempersiapkan kegiatan penyuluhan, setidaknya ada 4 (empat) hal yang dapat mendukung kelancaran pelaksanaan kegiatan penyuluhan yaitu:

  1. Melakukan identifikasi tujuan penyuluhan.

Menentukan tujuan penyuluhan yang didasarkan atas kebutuhan pelaku utama yang menjadi prioritas begitu penting, karena dapat menentukan indikator keberhasilan kegiatan penyuluhan yang dilaksanakan, berhasil atau gagalnya sangat tergantung dari ketercapaian tujuan ini. Karena upaya pemenuhan kebutuhan ialah hal yang sangat dibutuhkan oleh sasaran sehingga kebutuhan dan bentuk penyajian ketika kegiatan penyuluhan dapat berjalan dengan baik.

.

  1. Penentuan kriteria dan instrumen evaluasi

Menentukan ranah tujuan penyuluhan juga bisa dijadikan dasar menentukan teknik evaluasi yang akan digunakan. Ada tiga ranah yang meliputi; 1) Jika tujuannya ranah kognitif, maka instrumen tes menggunakan tes tertulis, 2) Jika tujuannya ranah affektif, maka instrumennya observasi  (personal dan kelompok) atau instrumen tanya jawab langsung, 3) Jika tujuannya ranah psikomotor, maka instrumennya tess unjuk kerja dan penugasan.

  1. Penentuan metode dan media penyuluhan

Metode penyuluhan yang efektip adalah yang mengkombinasikan beberapa metode. Metoda yang diterapkan harus mampu merangsang sasaran untuk selalu siap (dalam arti sikap dan pikiran) dan dengan sukahati melakukan perubahan-perubahandemi perbaikan mutu hidupnya sendiri, keluarganya dan masyarakatnya.

Pendampingan teknologi tidak cukup hanya dilakukan penyuluh pertanian melalui kunjungan, pertemuan kelompoktani dengan penyampaian materi secara lisan, tetapi juga diperlukan adanya dukungan materi teknologi yang akan berguna sebagai dokumentasi bagi petani.

  1. Persiapan administrasi penyuluhan.

Dalam menjalankan tugas dan fungsinya penyuluh sesuai dengan Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara No : Per/02/Menpan/2/2008 tentang Jabatan Fungsional Penyuluh Pertanian dan Angka Kreditnya. Dalam memenuhi beberapa unsur kegiatan yang dapat dilakukan oleh penyuluh pertanian salah satunya menyampaikan materi informasi pertanian, diharapkan penyuluh dapat melaksanakan dan mendokumentasikan setiap kegiatan penyuluhan pertanian yang dilakukan. Berkas dokumen yang harus dipersiapkan diantaranya daftar hadir peserta, resume materi dan lembar persiapan menyuluh (LPM).

 Dengan mempersiapkan kegiatan penyuluhan pertanian secara benar oleh penyuluh pertanian maka diharapkan tujuan perubahan yang meliputi ranah pengetahuan, ketrampilan maupun sikap pelaku utama dapat tercapai sesuai harapan.

Categories: Uncategorized | Tags: , , | Leave a comment

RESOLUSI SWASEMBADA DAGING DAN SUSU MELALUI OPTIMALISASI REPRODUKSI dan PERBIBITAN

RESOLUSI SWASEMBADA DAGING  DAN SUSU

MELALUI OPTIMALISASI REPRODUKSI dan PERBIBITAN

Oleh : Heru Nurwanto

 

            Swasembada daging dan susu yang bersumber dari ruminansia memang tidak akan lepas dari peningkatan dan percepatan populasi ternak. Kebijakan peternakan yang berorientasi pada pengadaan ternak perlu di evaluasi kembali, untuk di fokuskan pada kebijakan reproduksi dan perbibitan sehingga dapat mendorong pertumbuhan bibit dan bakalan ternak. Kebijakan pelarangan pemotongan induk produktif di ikuti dengan kebijakan penguatkan instrument reproduksi, di dukung dengan kebijakan penguatan kualitas dan kuantitas pakan, dan menejemen pemeliharaan yang tepat,  akan mendorong percepatan populasi ternak yang sehat.

Keberhasilan bidang reproduksi dapat di evaluasi melalui performa reproduksi (reproduction performance) yang meliputi beberapa aspek, yaitu : service per conception, conception rate, pregnancy rate, calving rate, estrous post partum dan calving interval. Indikator tersebut tentunya tidak dapat lepas dari factor status kesehatan dan reproduksi ternak, pengetahuan dan pengalaman peternak dalam mengidentifikasi status reproduksi ternaknya, factor petugas yang mendampingi peternak, dan instrument reproduksi lainnya.

Menurut penelitian Drh. Surya Agus Prihatno, MP pada sapi perah di Daerah Istimewa Yogyakarta, calving interval mencapai 19 bulan yang semestinya 12-14 bulan. Sementara gangguan reproduksi fungsional pada sapi perah di Daerah Istimewa Yogyakarta masih cukup tinggi, beberapa di antaranya : silent heat  mencapai angka 18 %, hypofungsi ovaria 21 %, endometritis ringan 5 %, serta kista folikuller 9 %.  Kondisi ini setelah di konfrotir ke beberapa KUD di wilayah Malang menunjukan angka yang tidak jauh beda, sehingga perlu penanganan yang lebih serius terhadap kasus dan gangguan reproduksi.

Dari hasil observasi, kasus reproduksi yang sering terjadi dilapangan pada umumnya ditandai dengan anestrus (birahi tidak tampak gejalanya) dan kawin berulang. Kawin berulang merupakan salah satu problem utama. Kawin berulang adalah suatu keadaan sapi betina yang mengalami kegagalan untuk bunting setelah dikawinkan 3 kali atau lebih, tanpa adanya abnormalitas yang teramati. Hal ini disebabkan endometritis sub klinis, sista folikuler, delayed ovulation, silent heat,  subestrus dan lameness.

Pengetahuan dan pengalaman peternak dalam mengelola peternakan menjadi factor penting terhadap kesehatan reproduksi. Konstruksi kandang sampai dengan kebersihan kandang sangat mempengaruhi status reproduksi ternak. Bakteri, jamur, dan organisme mikro lainnya tumbuh subur dalam kondisi kandang yang kotor, becek, dan tidak terawat, sehingga jika sapi hidup dalam lingkungan ini dapat di mungkinkan rentan terinfeksi, sehingga muncul penyakit reproduksi seperti endometritis. Kasus ini sering terjadi pada sapi post partus, karena pada saat itu cervick membuka sampai mengalami proses envolusi selesai, sehingga uterus sangat rentan kemasukan kuman dari lingkungan sapi.

Dari hasil penelitian Drh. Surya Agus Prihatno, MP terhadap uterus sapi yang mengalami kawin berulang, menunjukkan adanya jamur Aspergillus fumigatus (60 %). Kemudian, penelitian yang terbaru menunjukan bahwa sapi yang mengalami kawin berulang mengandung bakteri lebih banyak ketimbang sapi yang fertil (62,5 % berbanding 28.6 %). Penelitian Agus menunjukkan adanya beberapa bakteri, seperti : Strepthococus 10 %, Staphylococcus 40 %, Bacillus 50 %, dan E. coli 20 %.

Pengaruh pakan terhadap Reproduksi

Pada sisi lain, kualitas dan kuantitas pakan menjadi titik kritis kesehatan dan reproduksi ternak. Asupan pakan yang cukup akan mendukung fungsi anatomis dan fisiologis ternak terjamin. Dari hasil pengamatan sapi rakyat oleh  Drh. Agung bahwa faktor nutrisi merupakan faktor yang kritis, yang memiliki pengaruh langsung maupun tidak langsung terhadap fenomena reproduksi dibanding faktor lainnya.  Nutrisi yang cukup dapat mendorong proses biologis untuk mencapai potensi genetiknya, mengurangi pengaruh negatif dari lingkungan yang tidak nyaman dan meminimalkan pengaruh-pengaruh dari teknik manajemen yang kurang baik. Nutrisi yang kurang baik tidak hanya akan mengurangi performans dibawah potensi genetiknya, tetapi juga memperbesar pengaruh negatif dari lingkungan.

Kondisi kurangnya pakan –baik kualitas maupun kuantitasnya, merupakan salah satu penyebab menurunnya efisiensi reproduksi dan gangguan reproduksi yang menyebabkan timbulnya gangguan reproduksi hingga kemajiran pada ternak betina. Apabila didapati sapi umur 13 bulan tidak memperlihatkan tanda-tanda birahi untuk pertama kalinya, perlu dilakukan pemeriksaan, untuk mengetahui kondisi ovariumnya dan dilakukan penanganan untuk memperbaiki fertilitasnya (baca : kondisi kesuburannya) sebelum terlambat –sehingga menjadi majir atau infertil.

Paradigma Inseminasi Buatan

Penggunaan inseminasi buatan telah digunakan secara luas di seluruh Indonesia guna memacu peningkatan populasi dan mutu sapi. Namum sayangnya, keberhasilan pelaksanaan inseminasi buatan masih sangat rendah. Menurut penelitian Agus, angka servis per konsepsi masih berada di atas 5 (diperlukan lebih dari 5 kali IB untuk menghasilkan kebuntingan). Untuk mengurangi kegagalan IB, maka petugas IB harus memastikan agar IB yang mereka lakukan sesuai Standart Operasional Prosedure (SOP) dan tidak menyertakan kuman masuk ke dalam saluran reproduksi ternak.

Paternak sebagai pamong sapi harus mengerti betul perubahan perubahan fisiologis dan tingkah laku ternaknya saat birahi. Deteksi birahi yang di tandai dengan 3A, 2B, 2C, keluar lender, harus di fahami betul oleh peternak. Deteksi estrus pada sapi di tingkat petani cukup bervariasi tetapi pada umumnya rendah, ini dikarenakan durasi estrus ternak yang pendek dan intensitas perilaku estrus  yang rendah (gejala estrus yang tidak jelas). Kesalahan deteksi estrus menjadi salah satu penyebab kegagalan IB.

Inseminator sebagai eksekutor IB, harus dapat melakukan IB pada saat yang tepat agar terjadi kebuntingan. Perkawinan yang terlalu cepat atau awal menyebabkan penuaan spermatozoa sehingga spermatozoa tidak mampu membuahi ovum. Hasil penelitian Drh. Surya Agus Prihatno, MP  menunjukan bahwa perkawinan yang terlalu cepat (3-4 jam) akan meningkatkan 4.41 kali kejadian kawin berulang. Sebaliknya, perkawinan yang terlambat menyebabkan ovum mengalami penuaan sehingga terjadi kegagalan fertilisasi.

Waktu yang optimal untuk inseminasi pada sapi adalah 4 sampai 12 jam setelah estrus teramati, ini mempertimbangkan waktu ovulasi pada sapi umumnya terjadi 24-28 jam setelah timbul estrus, kemampuan hidup spermatozoa yang fertil adalah 24-30 jam, serta kemampuan hidup dari oosit yang berovulasi hanya 6-12 jam. Dalam rumus yang sederhana, jika sapi birahi pagi hari maka sapi dikawinkan pada sore hari, jika sapi birahi pada sore atau malam hari maka sapi dikawinkan pada keesokan hari.

Namun, menurut penelitian Drh. Agung Budiyanto, dalam beberapa kondisi rumus sederhana ini sudah tidak dapat digunakan. Pasalnya, kata Agung, telah terjadi delayed ovulation (baca : ovulasi tertunda), sehingga sperma akan mati sebelum oosit diovulasikan dan fertilisasi sebagai prasyarat kebuntingan tidak terjadi.

Data penelitian Drh. Agung Budiyanto menyebutkan, setidaknya 82% sapi Simpo (persilangan antara Simental dan PO) dan 84% sapi Limpo (persilangan antara Limousine dan PO) dan 5% populasi sapi telah mengalami delayed ovulation. Menurut Agung, slogan “sapi estrus sore dikawinkan pagi hari dan sapi estrus pagi dikawinkan sore hari” hanya berlaku untuk sapi PO.  Untuk sapi Simpo dan Limpo, IB perlu ditunda dulu karena birahi panjang akan menyebabkan ovulasi yang terjadi di akhir dari masa estrus juga akan mengalami penundaan. Sehingga sperma yang dimasukkan tidak terlalu lama menunggu dan mati sebelum ketemu sel telur.

Agung menambahkan, di Indonesia –khususnya di Jawa, peternak suka dengan crossbreed (persilangan) yang dikenal dengan Simpo dan Limpo. Anak yang dihasilkan sangat bagus, karena sebagian sifat pejantan Simmental dan Limousine dominan diturunkan pada anaknya, badan yang besar, pertumbuhan yang cepat menyebabkan harga melambung melebihi sapi PO. Menurut Agung, seiring dengan maraknya crossbreed yang tidak terkendali sampai F3 dan F4 maka performan reproduksinya berubah, yang paling umum ditemui adalah adanya kesulitan kebuntingan ketika perkawinan –terutama pada F2. Hal ini menjadi masalah namun crosbreed terus saja berlangsung. Sebuah survey sederhana di Kulon Progo memperlihatkan, komposisi populasi sapi Simpo, Limpo dan PO di masyarakat saat ini masing-masing sebesar 72%, 20% dan 8%.

Kontrol reproduksi

Kontrol reproduksi secara disiplin dan teratur sangat diperlukan.  Terutama pada titik kritis sebagai berikut : 1. Sapi dara yang telah mencapai usia 14 bulan tetapi belum berahi; 2. penanganan retensi plasenta tidak lebih dari 24-72 jam pasca beranak; 3. Pada hari ke 30 pasca beranak harus diperiksa kondisi saluran reproduksi; 4. Saat ditemukan abnormalitas leleran dari vulva seperti terlihat keruh, berbau, dan kehijauan; 5. Ketika tidak terjadi estrus dalam waktu 45 – 60 hari post partum; 6. Pada kasus abortus –diagnosis awal dan terapi cepat akan mengurangi kerugian peternak; pada sapi-sapi yang mepunyai siklus estrus yang abnormal, dan pemeriksaan sapi-sapi yang  mengalami kawin berulang; 7serta pemeriksaan kebuntingan setelah 45 – 60 hari perkawinan.

Ada Apa dengan Divisi Reproduksi dan Perbibitan BBPP Batu ??       

Masalah reproduksi dan perbibitan ternak sedemikian kompleks,  dan menjadi kunci peningkatan populasi ternak untuk swasembada daging-susu. Titik kritis keberhasilan reproduksi tentunya berada pada factor petugas pendamping peternak, penyuluh, petugas IB/PKB/ATR, yang  secara langsung membidangi reproduksi. Petugas Inseminasi Buatan “Inseminator”, selain harus memberikan penyuluhan baik secara langsung mapun tidak langsung, missal pada saat meberikan pelayanan, sembari memberi pemahaman tentang deteksi birahi sapi. Sudah selayaknya pula seorang inseminator segera meningkatkan ilmu, pengetahuan dan pengalaman nya untuk memperdalam reproduksi melalui diklat Pemeriksaan kebuntingan dan penyakit dan gangguan reproduksi.

Berkaitan dengan hal tersebut maka Devisi Reproduksi dan Perbibitan Ternak membuka kesempatan kepada Calon inseminator untuk menjadi inseminator yang professional, dan bagi petugas IB dapat meningkatkan ilmu dan pengetahuannya melalui dikat Pemeriksaan Kebuntingan dan Asisten Teknis Reproduksi.

            Kurikulum telah di susun, selengkap mungkin untuk menjawab permasalahan-permasalahan reproduksi di atas  dengan biaya diklat yang terjangkau, sebagai berikut:

  1. Diklat IB selama 21 hari, di fokuskan pada teknik mendisposisikan semen pada Cervic 4 secara tepat sesuai SOP untuk menjamin fertilisasi dalam oviduck, dengan biaya Rp. 6.300.00,00.  Rencana di laksanakan pada Bulan Maret, Mei 2014
  2. Diklat Pemeriksaan kebuntingan selama 14 hari, di fokuskan pada teknik memeriksa kebuntingan pasaca IB/kawin, sekaligus mendiagnosa umur kebuntingan, sehingga dapat di hindarkan  abortus akibat deferensiasi deteksi estrus, dengan biaya Rp. 5.250.00,00.

Rencana dilaksnakan pada Bulan Februari, April 2013

  1. Diklat Asisten teknis Reproduksi selama 14 hari,  di fokuskan pada diagnose penyakit reproduksi  dan gangguan reproduksi pada ternak, kebidanan, dan kemajiran.  Peserta yang lulus mendapatkan sertifikat yang di keluarkan oleh Kementrian pertanian dan BBPP Batu, beserta transkrip nilai sesuai dengan kopetensinya, dengan biaya Rp. 5.250.000,00, Rencana di laksanakan pada Bulan Februari, April, Mei 2013.
  2. Kebidanan,  Penyakit dan gangguan reproduksi, kurikulum menyesuaikan dengan kebutuhan peserta, dengan biaya Rp. 350.000,00 per hari, pelaksanaan menyesuaikan kebutuhan peserta/daerah.

Untuk mendukung Kegiatan kediklatan Reproduksi dan Perbibitan, maka Divisi telah memiliki fasilitas:

Persyaratan dan fasilitas Peserta dapat di konsultasikan pada SatLak Divisi Reproduksi dan Perbibitan. Bagi Individu, Dinas dan Instansi yang berkenan berdiskusi, konsultasi serta menjalin kerjasama diklat bidang reproduksi dan perbibitan,  dapat menghubungi :

DIVISI REPRODUKSI DAN PERBIBITAN BBPP Batu

Jl. Songgoriti. No. 24  Kotak Pos 17 – Batu  65301

Telp. (0341) 591302 – Fax. [0341] 597032, 590288, 599796

CP:

  1. Anjar Lesmana, A.Md    (Kasie Projas BBPP Batu)                       : 085233126144
  2. Udik Sulijanto (Ket. Div. Reproduksi dan Perbibitan)                            : 081 334 201 108
  3. Heru Nurwanto

(Satlak Div. Reproduksi dan Perbibitan)                                          : 081 328 823 444,  

 E-mail: heru_n229_2000@yahoo.com

 

 

Daftar Pustaka:

 

Al aubaidi, JM. 1972. Boviseminal vesiculitis and epididmis causidby microplasma bovigenitalium cornell, vet. AAUCS, Australia

Anonimous. 2008. http://nurheti2.blogspot.com/2008/06/hati-hati-kekurangan-pangan-pada-hewan.html

Anonimous. 2009. http://www.i_elisa.ugm.ac.id/index.php?app=common&cat=komunitas_home&komunitas_id=18

Hardjopranjoto, S., 1995.  Ilmu Kemajiran Pada Ternak. Airlangga University Press. Surabaya

Hafez, E.S.E. 1993. Reproduction in Farm Animals. Lea and Febiger. Philadelfia.

Nalbandov, A.V. 1990.  Fisiologi Reproduksi pada Mamalia dan Unggas. UI- Press

Salisbury, G.W. and N.L. Vandemark. 1985. Fisiologi Reproduksi dan Inseminasi Buatan pada Sapi.

Toelihere, M.R. 1985. Inseminasi Buatan Pada Ternak. Institut Pertanian Bogor.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Categories: Uncategorized | Tags: , , , , , , , , | 1 Comment

Mengenal Kebutuhan Nutrisi Pakan Kambing PE

Mengenal Kebutuhan Nutrisi Pakan Kambing PE
Oleh:
Ari Khiyatil Jaliyah, S.Pt, M.Si.

PENDAHULUAN

Susu memegang peranan penting dalam memenuhi kebutuhan protein hewani bagi masyarakat. Permintaan susu semakin meningkat dengan bertambahnya jumlah penduduk, kemajuan ekonomi dan peningkatan kesadaran masyarakat akan pentingnya gizi dalam kehidupan manusia. Permintaan susu baru dapat terpenuhi ± 64,35%, yaitu 99,81%nya berasal dari susu sapi dan 0,19% lainnya berasal dari susu kambing. Berdasarkan hal tersebut, maka usaha ternak kambing perah masih mempunyai peluang yang besar untuk dikembangkan, dimana kambing peranakan Etawah (PE) menjadi salah satu komoditas ternak pilihan. Usaha ternak kambing perah ini mempunyai banyak keuntungan antara lain membutuhkan modal yang relatif lebih kecil dan harga susu kambing masih relatif tinggi, sehingga tingkat keuntungannya juga lebih tinggi. Selain itu tatalaksana pemeliharaannya juga relatif lebih mudah dibandingkan dengan sapi perah.

Permasalahan yang terjadi di tingkat peternak adalah produktivitas kambing perah rata-rata masih rendah. Hal ini disebabkan kualitas ransum, bibit dan tatalaksana pemeliharaan yang belum optimal. Salah satu upaya pemecahan masalah rendahnya produksi susu adalah dengan meningkatkan kualitas ransum pada saat laktasi. Peningkatan kualitas ransum terutama kandungan Protein Kasar (PK) dan Total Digestible Nutrients (TDN) diperlukan pada saat laktasi. Hal ini berkaitan dengan meningkatnya proses metabolisme tubuh untuk memenuhi kebutuhan hidup pokok dan produksi susunya. Ransum yang biasanya diberikan pada kambing atau domba di tingkat peternak pada umumnya memiliki kandungan protein kasar antara 9 – 12% (Siregar, 1994). Dengan kisaran tersebut akan menimbulkan permasalahan yaitu kebutuhan dasar protein untuk ternak serta perkembangan mikroba rumen kurang, karena mikroba rumen akan dapat berkembang dengan baik pada saat kadar protein kasar ransum yang diberikan pada ternak sebesar 13,4% (Tamminga, 1979).

Pakan Kambing PE

Pakan kambing terdiri dari hijauan dan konsentrat. Hijauan yang digunakan sebagai pakan, dapat berupa hijauan segar maupun hijauan kering. Disamping itu, harus memenuhi persyaratan sebagai pakan antara lain tidak mengandung racun dan bermanfaat bagi ternak untuk kelangsungan hidupnya. Hal itu berlaku juga dengan konsentrat sebagai pakan ternak.
Menurut Lubis (1992), hijauan adalah bahan pakan dalam bentuk daun-daunan yang kadang-kadang masih bercampur dengan batang, ranting serta bunga yang pada umumnya berasal dari tanaman sebangsa rumput dan kacang-kacangan. Hijauan dapat pula diartikan sebagai pakan yang mengandung serat kasar yang relatif tinggi.

Hijauan yang dapat digunakan sebagai pakan kambing adalah rumput gajah (Pennisetum purpureum), kaliandra, lamtoro, gamal, turi, daun nangka, dan lain-lain. Rumput gajah baik digunakan untuk pakan karena penanaman mudah, produksi dan nilai nutrisinya tinggi (Lubis, 1992). Produksi rumput gajah ± 150 ton/ha/tahun dengan pemotongan pertama pada umur 50 – 60 hari dan pemotongan selanjutnya dilakukan setiap 30 – 50 hari sekali (Reksohadiprodjo, 1981). Komposisi zat nutrisi yang terkandung dalam rumput gajah berdasarkan bahan keringnya adalah abu 10,6%, protein kasar 9,6%, serat kasar 32,7%, lemak kasar 1,9%, bahan ekstrak tanpa nitrogen (BETN) 45,2% dan total digestible nutrients (TDN) 54% (Siregar, 1994) .

Tanaman kaliandra dibedakan menjadi dua jenis yaitu kaliandra berbunga merah dan kaliandra berbunga putih. Kaliandra merah merupakan penghasil pakan ternak dengan kandungan protein di dalam daunnya cukup tinggi dan jumlah daun cukup banyak (Lembaga Biologi Nasional, 1983). Komposisi zat nutrisi yang terkandung dalam daun kaliandra merah berdasarkan bahan keringnya adalah abu 9,3%, protein kasar 27,7%, serat kasar 28,9%, lemak kasar 3,3%, bahan ekstrak tanpa nitrogen (BETN) 30,8% dan total digestible nutrients (TDN) 62% (Siregar, 1994).

Daerah tropis yang suhunya relatif lebih panas mempunyai kualitas hijauan yang cenderung lebih rendah, sehingga untuk pemenuhan zat-zat gizi yang tidak tersedia di dalam pakan hijauan dipenuhi melalui pakan konsentrat. Konsentrat adalah pakan yang mengandung serat kasar/bahan yang tak tercerna relatif rendah. Jenis bahan pakan penyusun konsentrat antara lain dedak padi, bungkil kelapa, ampas tahu, ampas kecap, bungkil kedelai, polard, onggok, dan lain-lain (Sutardi, 1981). Menurut Schmidt (1971) yang disitasi oleh Prihadi (1996), pakan konsentrat berfungsi sebagai penambah energi, disamping mengandung protein lebih dari 20% dan kandungan serat kasar kurang dari 18% serta mudah dicerna.

Menghitung Kebutuhan Nutrisi

Dalam menghitung kebutuhan nutrisi ternak ditentukan oleh performance / penampilan ternak, dimana hal ini dapat berupa berat badan, pertambahan berat badan harian, masa kebuntingan dan menyusui. Bila seekor ternak diberi makanan untuk kepentingan pertumbuhan, penggemukan, produksi air susu atau untuk kepentingan fungsi produksi lainnya, maka sebagian makanan itu dipergunakan untuk menunjang proses dalam tubuh yang harus dilaksanakan walaupun ada atau tidak ada pembentukan jaringan baru atau produksi.

Kebutuhan-kebutuhan akan makanan untuk menjaga integritas jaringan tubuh dan mencukupi energi guna proses essensial organisme hidup disebut kebutuhan hidup pokok organisme tersebut. Sehingga bisa dikatakan bahwa apabila kebutuhan hidup pokoknya sudah terpenuhi, maka sisa nutrisi dalam makanan tersebut akan digunakan untuk proses produksi. Jika ternak tidak mendapatkan suplai makanan yang cukup untuk kebutuhan pokok hidupnya, maka dia tidak akan bisa memenuhi target untuk berproduksi. Bahkan ternak tersebut akan merombak cadangan makanan di dalam tubuhnya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, sehingga ternak menjadi kurus.

Kebutuhan Nutrisi Kambing Perah

Hartutik (1995) menyatakan bahwa kebutuhan nutrien ternak ditentukan oleh hidup pokok dan tingkat produksinya. Kebutuhan hidup pokok merupakan kebutuhan untuk mempertahankan bobot hidup. Apabila pakan yang diperoleh melebihi dari kebutuhan hidup pokok maka sebagian kelebihan akan digunakan untuk produksi.

Pemberian nutrien kepada ternak terutama protein kasar, apabila sudah melebihi kebutuhan hidup pokok, maka akan dapat meningkatkan produktivitasnya. Ternak yang mendapatkan protein ransum lebih tinggi akan mempunyai pertambahan bobot badan (PBB) yang lebih tinggi dan lebih efisien dalam menggunakan pakan (Weston, 1982). Kebutuhan protein tertinggi diperlukan saat ternak berada pada status pertumbuhan awal, melahirkan dan awal laktasi (Preston dan Leng, 1987).

Selain itu protein dibutuhkan pula untuk produksi susu khususnya untuk produksi kasein. Kebutuhan protein kasar ransum untuk hidup pokok (maintenance) adalah 4,15 g/W kg 0,75 dan untuk produksi susu adalah 77 g/kg susu dengan kadar lemak 4,5% (NRC, 1981), sehingga produksi susu akan sangat ditentukan oleh protein dalam ransum.

Disamping protein, ternak juga memerlukan energi untuk pemeliharaan tubuh (hidup pokok), memenuhi kebutuhannya akan energi mekanik untuk gerak otot, dan sintesa jaringan – jaringan baru. Bila hewan dalam keadaan kekurangan makanan, ia tetap memerlukan energi untuk melaksanakan fungsi normal dari tubuh, misalnya aktivitas kerja mekanik, otot-otot, kerja kimia, seperti gerakan zat makanan ke dalam sel menentang konsentrasi yang lebih pekat, untuk sintesa enzym-enzym essensial dan hormon yang penting untuk proses-proses kehidupan, dan lain-lain. Energi yang diperlukan untuk kepentingan-kepentingan tersebut diperoleh dari hasil katabolisme zat-zat cadangan dalam tubuh, misalnya : glikogen, lemak dan protein.

Categories: Uncategorized | 6 Comments

Create a free website or blog at WordPress.com. The Adventure Journal Theme.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.